Nasi Liwet Bu Sami: Kuliner Tengah Malam Semarang


LMJrentcar.com Tiba di suatu kota kala subuh menjelang itu memang PR buat perut yang keroncongan. Kalau makan di stasiun atau bandara, kadang suka meradang karena rasa yang kurang atau harga yang bikin kantong mencelos. Tapi, kalau tibanya di Semarang, bisa diakali dengan mampir ke Nasi Ayam Pojok Matahari Bu Sami di Simpang Lima. Warung lesehan ini buka pukul 11 malam sampai 6 pagi setiap harinya. Libur hanya ketika malam tahun baru dan dua minggu sekitar perayaan Idul Fitri.

Lantunan melodi dangdut koplo, terkadang juga campur sari dengan lirik nyeleneh, menyibak sunyi malam di Pojok Matahari Simpang Lima, Semarang. Suara pengamen yang terkadang cempreng, terkadang syahdu menemani tamu-tamu yang bersantap malam di warung Bu Sami. Tikar-tikar plastik dihamparkan menjadi alas duduk. Tidak ada meja, hanya beberapa bangku kecil plastik untuk meletakkan nampan-nampan berisi jeroan. Beberapa bungkus plastik krupuk tergeletak di tengah-tengah gerombolan tamu, menggoda untuk diambil.

Bu Sami memulai usaha nasi liwet sejak 1975 silam–dimulai dari menggendong bakul dan jualan keliling hingga baru sekitar 1988 mereka bertempat di Simpang Lima. Setidaknya demikian menurut penuturan Bu Tomo dan Bu Poniyem yang malam itu melayani celoteh saya di tengah kesibukan melayani tamu-tamu lainnya. Dari Kang Surono, salah satu karyawan warung Bu Sami, saya pun diberitahu bahwa seluruh karyawan merupakan kemenakan atau setidaknya memiliki hubungan kekerabatan dengan Bu Sami. Usaha keluarga rupanya.

Melanjutkan obrolan sambil meredam kantuk yang makin menjadi, Bu Poniyem dan Bu Tomo gantian bercerita, kadang ditimpali oleh Kang Surono. Kamis itu subuh semakin menjelang, arus pengunjung silih berganti, meskipun tidak bisa disebut ramai. Puncak keramaian biasanya terjadi malam Jumat, Sabtu dan Minggu, juga hari-hari puasa berlangsung, karena orang-orang akan datang untuk sahur.

Di Pojok Matahari ada empat penjual nasi liwet, masing-masing memiliki waktu jualnya sendiri, jadi tidak sontak menjadi kompetitor langsung. Bu Sami sendiri menjadi nasi liwet favorit, konon banyak tamu terkenal yang mampir dan sempat berkali-kali diliput media televisi. Favorit atau tidak, menurut saya mereka yang berdagang di malam dini hari patut diacungi jempol. Bu Poniyem dan Bu Tomo berbagi cerita, bahwa mereka sehari-harinya hanya tidur sekitar 3 – 4,5 jam, sisa waktunya dihabiskan untuk menyiapkan dan memasak nasi liwet beserta menu pendampingnya.

Nasi liwet Bu Sami menawarkan rasa gurih yang tidak berlebihan, bila ditambah dengan sambal manis, paduan rasa yang dihasilkan pun harmonis dengan krecek, sayur labu, santan kuning dan suwiran ayam yang ditabur di atas nasi. Harga seporsi nasi liwet IDR 10.000. Disajikan pula berbagai hidangan pendamping, seperti potongan ayam dari kepala sampai kaki yang diopor dan dibacem, serta telor, tahu dan jeroan (usus, ati ampela, uritan dan telor muda) yang pula dibacem. Ah, Bu Sami memang penyelamat jiwa-jiwa yang kelaparan tengah malam di Semarang!



Nasi Liwet Bu Sami

Pojok Matahari, Simpang Lima, Semarang
Jam Buka: 23.00 – 06.00 (setiap hari, kecuali malam tahun baru dan libur lebaran)

informasi sewa mobil semarang bisa klik di www.semarangrentcar.com




Share on Google Plus

About semarang rentcar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar